Suatu hari, sebuah puisi dirangkai dalam secarik kertas.
Penulisnya ialah seorang pemuda lusuh dan kumuh. Tapi konon, dahulu ia
tak begitu. Ayahnya adalah raja terakhir di pulau ini ketika semua orang
mendadak menjadi lupa akan segala hal kecuali raja, istri dan si
pangeran, penulis puisi itu.
Lampu kota murung berpendar
Siluet tak bernama gagah bersinar
Serpihan lampau kian menyibar
Lalu, semua mata kuyup berbinar
Siluet tak bernama gagah bersinar
Serpihan lampau kian menyibar
Lalu, semua mata kuyup berbinar
Penyakit lupa semakin parah menyerang seluruh kota. Setiap masa lalu sirna, kecuali ingatan si anak Raja yang tersisa. Anak itu, kini menjadi pemuda, si penulis puisi yang hanya bisa menangis berziarah di sudut kota. Memang tak ada yang tau pasti, tapi sang pangeran yang kini lusuh tak bertuan itu, selalu percaya bahwa kedua orangtuanya mati dan bangkainya dibakar serta abunya dilarung di jurang di sudut kota. Pasti mereka bersemayam di lembah terkutuk itu.
Oh...
Mereka menari seperti memaki
Sentuhan demi sentuhan
Cumbu dan rayuan
Segala pertanda untukku mati
Sentuhan demi sentuhan
Cumbu dan rayuan
Segala pertanda untukku mati
Sayup-sayup ingatan
Lirih merintih
Terbenam di lembah suram
Nada berdesah sumbang
Menyaru di dalam bimbang
Lirih merintih
Terbenam di lembah suram
Nada berdesah sumbang
Menyaru di dalam bimbang
Dan kenyataan hanya ada di seberang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar