Sabtu, 11 April 2015

Puisi Dalam Secarik Kertas

Suatu hari, sebuah puisi dirangkai dalam secarik kertas. Penulisnya ialah seorang pemuda lusuh dan kumuh. Tapi konon, dahulu ia tak begitu. Ayahnya adalah raja terakhir di pulau ini ketika semua orang mendadak menjadi lupa akan segala hal kecuali raja, istri dan si pangeran, penulis puisi itu.

Lampu kota murung berpendar
Siluet tak bernama gagah bersinar
Serpihan lampau kian menyibar
Lalu, semua mata kuyup berbinar
Sebenarnya, kutukan penyakit lupa adalah penyebab semua perkara hingga penulis puisi menjadi tampak begitu kumuh dan lusuh. Penduduk kota lupa diri. Semua aturan diabaikan, termasuk seisi istana tinggalkan Sang Raja dan istri. Tak ada lagi pajak yang bisa dipungut, para pekerja bahkan lupa apa pekerjaannya. Berakhirlah kemewahan Sang Raja, ia pun nestapa dan akhirnya bunuh diri bersama permaisuri. Karena semua mendadak lupa, bangkai sang raja dan permaisuri membusuk di istana hingga menghilang. Hilang tertelan waktu.


Penyakit lupa semakin parah menyerang seluruh kota. Setiap masa lalu sirna, kecuali ingatan si anak Raja yang tersisa. Anak itu, kini menjadi pemuda, si penulis puisi yang hanya bisa menangis berziarah di sudut kota. Memang tak ada yang tau pasti, tapi sang pangeran yang kini lusuh tak bertuan itu, selalu percaya bahwa kedua orangtuanya mati dan bangkainya dibakar serta abunya dilarung di jurang di sudut kota. Pasti mereka bersemayam di lembah terkutuk itu.

Oh...

Mereka menari seperti memaki
Sentuhan demi sentuhan
Cumbu dan rayuan
Segala pertanda untukku mati

Hari demi hari, si pemuda semakin putus asa. Tinggal ia satu-satunya yang punya ingatan. Tiap hari semua penduduk hanya suka berpesta. dan minum anggur. Malam ini persediaan terakhir anggur yang tersisa di seluruh kota. Tepat tengah malam, ketika semua orang semakin mabuk, penulis itu memutuskan untuk mati saja. Maka ia undur dari lantai dansa, berjalan menyendiri menuju sebuah meja tempatnya biasa. Di meja itu, diselesaikannya puisi dalam secarik kertas dan akhinya ia mati. Karena semua orang adalah lupa, tak mengingat apapun juga, bangkainya pun turut menghilang setelah dibiarkan berminggu-minggu tergeletak di meja. Persis seperti kedua orang tuanya yang malang.

Kertas puisinyalah yang selalu melayang mengelilingi kota terkutuk itu. Tiupan angin pula yang membacakan bait-baitnya berulang-ulang.

Sayup-sayup ingatan
Lirih merintih
Terbenam di lembah suram
Nada berdesah sumbang
Menyaru di dalam bimbang

Dan kenyataan hanya ada di seberang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar